oleh Apoteker Nanda, S.Farm., M.S.Farm.
Kita pasti sering atau pernah mengamati fenomena dimana orang-orang bebas saja merokok di negeri ini. Kegiatan itu dilakukan saat berdiri, duduk, saat BAB pun juga ada. Selain itu, bahkan ada juga yang melakukannya saat berkendara baik itu kendaraan roda dua, roda tiga, roda empat bahkan kendaraan beroda delapan. Sebagian dari mereka merokok katanya untuk menenangkan pikiran, dan menambah inspirasi. Tapi, apakah benar demikian? Mari kita sama-sama bertanya pada rumput yang bergoyang, eh bukan. Itu lirik lagu ya ternyata. Kita tanyakan pada beberapa literatur yang tersedia di internet.
Jika kita mengamati secara langsung, rokok terdiri atas kertas yang membalut daun tembakau kering (nama latin spesies tumbuhannya yaitu Nicotiana tabacum), dan ada juga yang memiliki filter atau saringan. Rokok juga terkadang ditambahkan zat tambahan lainnya untuk rasa dan membuat merokok lebih menyenangkan. Tembakau sebagaimana kita ketahui mengandung nikotin, saya rasa itulah yang bekerja pada system saraf pusat dan memiliki efek menghilangkan stress dan memperbaiki suasana hati. Dilansir dari www.medicalnewstoday.com, ternyata informasi tersebut benar adanya. Zat ini (red: nikotin), memang bisa menghasilkan efek demikian yang sifatnya sementara, setelah memasuki tubuh, ia menyebabkan lonjakan endorphin (bahan yang merupakan bahan kimia yang membantu menghilangkan stres dan rasa sakit serta meningkatkan suasana hati. Selain itu, halaman tersebut juga mengatakan bahwa nikotin juga meningkatkan kadar dopamin, neurotransmitter yang merupakan bagian dari sistem penghargaan otak dan menciptakan perasaan senang dan penghargaan. Pelepasan dopamin memperkuat perilaku seseorang dalam mengonsumsi nikotin.
Namun, apakah yang akan terjadi jika rokok tersebut dibakar? Kalau dibakar ya habis rokoknya, hehe. Bukan, bukan ini yang saya maksud. Jika kita membakar rokok, zat yang ada di dalamnya tentu ikut terbakar termasuk nikotin serta zat tambahan lainnya, zat-zat tersebut pastinya akan terurai menjadi zat yang terkadang sangat susah untuk diprediksi dan kebanyakan bersifat racun. Berdasarkan tulisan yang terbit pada halaman American Cancer Society (www.cancer.org), asap rokok ternyata mengandung ribuan zat kimia (ribuan ya, bayangkan ribuan), yang 70 zat diantaranya telah diketahui bersifat karsinogen atau zat yang dapat menyebabkan KANKER (bukan kantong kering tapi penyakit kanker). Beberapa zat tersebut juga dapat menyebabkan penyakit jantung, penyakit paru-paru, atau kerusakan pada janin yang sedang berkembang pada wanita hamil.
Bila kita lihat dari sisi kegiatan menghisap batang ini, batang rokok maksudnya, ada istilah “PEROKOK AKTIF” dan ada “PEROKOK PASIF”. Sesuai Namanya, mereka yang menghisap rokok secara langsung setelah dibakar disebut perokok aktif, sedangkan mereka yang merokok dari asap yang dihasilkan perokok aktif disebut perokok pasif. Dua jenis ini rentan terkena penyakit yang disebutkan diatas (kanker, penyakit jantung, paru-paru atau kerusakan pada janin yang sedang berkembang). Di dalam halaman websitenya CarePlus juga menyatakan bahwa faktanya, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang tidak merokok tetapi rutin menghirup asap rokok orang lain (perokok pasif) 3-4 kali lebih berbahaya daripada perokok aktif. Jadi, para perokok aktif ini harus tahu diri juga dalam merokok. Kalau bisa, hindari merokok di dekat orang yang tidak merokok. Atau kalau bisa, ditelan semua asapnya saja,kan mubazir juga jika terbuang. Namun, saya lebih suka jika perokok itu berhenti merokok.
Saya pernah merokok dulu ketika terjebak di suatu situasi. Pada waktu itu ada senior beberapa orang, sekitar lima orang. Dan ada satu orang menganut kepercayaan bahwa jika ada satu orang yang tidak merokok, dalam enam orang tersebut dan berusia lebih muda, ia dianggap tidak menghargai yang merokok dan untuk menghargai haruslah merokok. Terpaksalah saya merokok. Singkat cerita, karena kebiasaan main futsal waktu itu, saya rasakan sendiri dampak setelah merokok selama satu minggu sehari tiga kali (seperti minum obat saja), saya hanya kuat bermain futsal selama lima belas menit saja dan sudah ngos-ngosan. Sebelum merokok, saya bisa bermain lebih lama bahkan hingga satu jam.
Kemudian hal ini berlanjut ketika saya melihat seorang pasien yang tidak ada riwayat asma sama sekali ada di ruang rawat inap, pada waktu saya praktek profesi apoteker di salah satu rumah sakit. Awalnya masuk IGD, usia sekitar lima puluhan tahun. Ketika dokter bertanya, “Bapak merokok?” “Sudah berhenti”, jawabnya. Pertanyaan itu berlanjut “Berapa lama bapak merokok?”, lanjut dokter tersebut. Namun beliau menjawab terus, sudah berhenti, katanya. Hingga tiga kali. Kemudian diketahui ternyata beliau sudah merokok sekitar tiga puluhan tahun lebih, mulai dari semenjak SD, dan baru berhenti sekitar lima tahun. Apa yang terjadi terhadap paru-parunya? Karena penasaran, saya cari tahu dengan sesama. Ternyata ia terkena penyakit paru yang namanya PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis). Berdasarkan www.alodokter.com, disebutkan bahwa pada PPOK telah terjadi peradangan pada paru-paru yang berlangsung dalam jangka panjang. PPOK umumnya ditandai dengan kesulitan bernapas, batuk berdahak, dan mengi (bengek). PPOK merupakan penyakit yang sering terjadi pada perokok aktif dan pasif. Penyakit ini juga akan membuat saya, anda, kita (semua perokok baik pasif maupun aktif bisa terkena) tidak bisa melakukan kerja yang agak berat seperti jalan menaiki tangga atau bahkan mengangkat gallon saja tidak sanggup.
Bagaimana caranya berhenti merokok untuk perokok aktif? Tidak ada jaminan Anda bisa berhenti merokok tanpa alasan yang kuat. Yang pasti ini memerlukan niat dan kesungguhan. Boleh saja berhenti merokok karena alasan punya anak yang masih kecil, atau keluarga. Atau boleh juga Anda coba pendekatan kalkulasi uang yang Anda bakar selama satu bulan untuk rokok, dikalikan setahun. Kemudian lakukan pengurangan jumlah rokok dari hari ke hari, saya tidak sarankan Anda untuk langsung berhenti total. Cara pengurangan secara perlahan ini termasuk salah satu cara berhenti merokok yang disebutkan di halaman web Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Barat. Misalnya, awalnya Anda merokok 10 batang per hari, Anda kurangi menjadi 8 batang perhari hingga target periode tertentu (misalnya selama tiga hari). Setelah lewat periode tersebut, sudah bisa merokok 8 per hari, kurangi hingga 5 per hari hingga tiga hari dan seterusnya hingga Anda bias meniadakan rokok dalam kegiatan sehari-hari. Anda bisa menetapkan sendiri kapan waktu atau tanggal berhenti total.
Ada juga teman berpendapat merokok mati, tidak merokok juga mati. Tinggal dipilih saja, jika mau mati sesak nafas karena asap rokok, ya merokok saja . Pada umumnya hampir separuh perokok menderita batuk, ada satu artikel yang melaporkan bahwa diantara perokok rutin setiap hari, 40.7 % mengalami batuk kronis dan menghasilkan sputum yang tinggi. Kemudian, untuk yang merokok sesekali atau kadang-kadang, angka ini lebih kecil yaitu 26.9%. Kok bisa? Ya bisa, karena menghisap asap rokok. Merokok berarti memasukkan bahan kimia ke tenggorokan dan paru-paru Anda. Batuk adalah cara tubuh Anda membersihkan saluran udara ini. Atau dengan singkatnya bisa dikatakan dengan adanya batuk, zat tersebut dikeluarkan dari tubuh. Lalu sering muncul pertanyaan di Apotek, sia-sia dong minum obat batuk dan saya merokok? Jika Anda bertanya kepada saya sebagai Apoteker, saya akan menjawab iya sia-sia saja jika Anda sudah mengetahui Anda batuk karena merokok. Obat diminum, pantangan juga dilanggar, jelas sia-sia.
Jadi, itulah alasan mengapa saya berhenti merokok. Saya menulis ini karena saya sering memperhatikan banyak orang yang merokok tidak tahu lingkungan sekitar ada ibu hamil, bahkan anak-anak atau bayi. Saya khawatir, karena dampaknya tidak hanya terhadap Anda yang merokok, kami tidak merokok pun terkena imbasnya. Salam sehat, semoga saya, Anda, dan kita sehat selalu
Referensi:
• Medical News Today. Everything you need to know about nicotine. Diakses pada https://www.medicalnewstoday.com/articles/240820#effects, tanggal 28 Januari 2025
• American Cancer Society. Harmful Chemicals in Tobacco Products. Diakses pada https://www.cancer.org/cancer/risk-prevention/tobacco/carcinogens-found-in-tobacco-products.html ,tanggal 28 Januari 2025
• Alodokter. Penyakit Paru Obstruktif Kronis. Diakses pada https://www.alodokter.com/penyakit-paru-obstruktif-kronis , tanggal 28 Januari 2025
• Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Barat. Susah Berhenti Merokok? Lakukan 10 Cara Berhenti Merokok Ini oleh Hasbi Abe. Diakses pada https://dinkes.sbbkab.go.id/detail/susah-berhenti-merokok-lakukan-10-cara-berhenti-merokok-ini ,tanggal 28 Januari 2025
*Tulisan telah diikutsertakan di lomba menulis PD IAI SUMBAR tahun 2025